Peta adalah representasi grafis atau visual dari permukaan bumi atau bagian tertentu dari permukaan bumi. Peta akan menyajikan informasi geografis, seperti topografi (ketinggian dan bentuk lahan), hidrografi (sungai, danau, dan laut), perbatasan politik, jalan, bangunan, hingga fenomena alam lainnya.
jenis-jenis peta
Gambar Peta Dunia (Sumber: geology.com)
Fungsi Peta
Peta memiliki fungsi yang penting dalam berbagai bidang. Berikut beberapa fungsi utama peta:
Menunjukkan lokasi pada permukaan bumi,
Menggambarkan luas, pola, dan bentuk berbagai gejala alam dan manusia,
Menentukan arah serta jarak suatu tempat,
Menunjukkan ketinggian atau kemiringan suatu tempat,
Menyajikan persebaran sifat-sifat alami dan non alami,
Memungkinkan pengambilan kesimpulan dari data atau informasi yang tersaji,
Melihat adanya gerak perubahan serta prediksi dari hasil pertukaran barang-barang persebaran aktivitas industri, arus produksi, mobilitas manusia, dan sebagainya.
Unsur-Unsur Peta
Unsur-unsur peta adalah komponen-komponen atau elemen-elemen yang membentuk struktur peta. Unsur peta bertujuan untuk memberikan informasi geografis kepada pembaca. Nah, suatu peta bisa dikatakan lengkap jika terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
1. Judul
Judul terdapat di bagian paling atas, biasanya menyebutkan jenis peta, lokasi wilayah, serta keadaan yang digambarkan dalam peta tersebut.
2. Skala
Skala pada peta adalah angka yang menunjukkan perbandingan jarak di peta dan jarak sebenarnya.
3. Tanda arah
Tana arah dikenal juga dengan nama mata angin, bentuknya seperti panah yang selalu mengarah ke atas untuk menunjukkan arah utara.
4. Tata warna
Tata warna berfungsi untuk memperjelas atau mempertegas objek-objek yang ingin ditampilkan.
5. Simbol
Simbol merupakan tanda-tanda yang umum, dipakai untuk mewakili keadaan sebenarnya ke dalam peta, dan dapat diklasifikasikan menjadi:
Simbol fisiografis (fisik), seperti: relief, hidrologis, oseanologis, klimatologis, dan sebagainya.
Simbol kultur, contohnya: jalur transportasi, batas sungai, dan sebagainya.
6. Lettering
Lettering adalah tulisan atau angka yang dapat mempertegas arti dari simbol-simbol di peta.
7. Legenda
Legenda fungsinya adalah memperjelas keterangan dari simbol yang ada dalam peta. Biasanya terletak di bagian tepi peta.
8. Inset
Inset tujuannya menunjukkan lokasi yang penting, tetapi kurang jelas dalam peta, dan juga mempertajam atau memperjelas salah satu bagian peta.
9. Garis astronomis
Garis astronomis berguna menentukan lokasi suatu tempat, ditandai dengan garis tepi yang menunjukkan angka derajat, menit, dan detik tanpa membuat perlu garis bujur dan lintang.
10. Garis tepi
Garis tepi biasanya dibuat rangkap. Garis ini dapat dijadikan pertolongan dalam membuat sebuah peta pulau atau suatu wilayah, agar letaknya bisa tepat di tengah.
11. Tahun pembuatan
Tahun pembuatan disebut juga dengan reproduksi. Ini berbeda dengan tahun keadaan peta ya, guys. Misalnya, di tahun 2023, kamu membuat peta persebaran penduduk Indonesia tahun 20018. Maka dalam judul harus dicantumkan “Peta Sebaran Penduduk Indonesia Tahun 2018”. Sedangkan, di luar garis kamu harus tulis tahun reproduksinya, yaitu tahun 2023. Paham, kan?
Baca Juga: Cara Interpretasi Peta terkait Jaringan Transportasi
Jenis-Jenis Peta
Peta dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam, berdasarkan skala, isi, dan bentuknya. Yuk, kita simak penjelasan rincinya berikut ini:
1. Jenis Peta berdasarkan Skala
Ada 5 (lima) jenis peta berdasarkan ukuran skalanya, antara lain:
jenis-jenis peta
Contoh peta berskala medium. (Sumber: emaze.com)
a. Peta Teknik/Kadaster
Peta dengan skala 1 : 100 sampai dengan 1 : 5000. Biasa digunakan untuk menggambar peta sertifikat pembuatan tanah.
b. Peta Skala Besar
Peta dengan skala 1 : 5.000 sampai dengan 1 : 250.000. Biasa digunakan untuk menggambar wilayah sempit, seperti Kabupaten.
c. Peta Skala Sedang/Medium
Peta dengan skala 1 : 250.000 sampai dengan 1 : 500.000. Biasa digunakan untuk menggambar wilayah yang lebih luas, seperti Provinsi.
d. Peta Skala Kecil
Peta dengan skala 1 : 500.000 sampai dengan 1.000.000. Biasa digunakan untuk menggambar wilayah yang luas, seperti negara.
e. Peta Skala Geografis
Peta dengan skala 1 : 1.000.000. Biasa digunakan untuk menggambar penampakan benua atau dunia.
2. Jenis Peta berdasarkan Isi
Berdasarkan isinya, peta terbagi lagi menjadi 2 (dua), yakni peta umum dan peta khusus:
a. Peta Umum
Peta yang menggambarkan penampakan segala hal yang ada di permukaan bumi di satu wilayah. Peta umum dibedakan menjadi:
Peta topografi, berisi gambaran bentuk permukaan bumi yang dilengkapi dengan relief permukaan bumi, seperti perairan (hidrografi), ketinggian suatu tempat, dan sebagainya.
Peta korografi, berisi gambaran bentuk permukaan bumi secara umum saja. Contoh peta korografi, yaitu atlas.
b. Peta Khusus
Peta yang menggambarkan penampakan dengan fokus tertentu. Contohnya:
Peta penampakan kepadatan penduduk di suatu daerah.
Peta persebaran kasus Covid-19.
Peta persebaran flora dan fauna di Indonesia.
3. Jenis Peta berdasarkan Bentuknya
Nah, kalau berdasarkan bentuknya, peta terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu peta datar, peta timbul, dan peta digital. Langsung kita bahas satu per satu!
a. Peta Datar
Peta datar sering juga disebut dengan peta planimetri. Peta datar adalah peta dua dimensi yang permukaannya berbentuk datar. Gambar pada peta ini hanya dibedakan menggunakan warna dan simbol.
b. Peta Timbul
Kebalikannya nih, peta timbul adalah peta yang permukaannya berbentuk tida dimensi. Peta timbul disebut juga dengan peta stereometri. Karena bentuknya yang tiga dimensi, membuat gambarannya mirip dengan keadaan permukaan bumi yang sebenarnya, loh. Misal, kalau petanya menggambarkan daerah pegunungan, maka bentuknya akan menjulang layaknya gunung-gunung. Tapi, versinya saja yang lebih kecil, ya.
c. Peta Digital
Nah, kamu inget nggak di awal tadi kita sempat membahas tentang Google Maps. Itu merupakan salah satu contoh peta digital, ya. Secara definisi, peta digital adalah peta hasil pengolahan data digital yang tersimpan dalam komputer.
Baca Juga: Apa Saja Ciri dan Karakteristik Negara Maju dan Negara Berkembang?
Oke, selain jenis-jenis peta berdasarkan skala, isi, dan bentuknya, ternyata masih ada loh jenis peta lainnya, yakni:
4. Jenis Peta berdasarkan Keadaan Objek
Berdasarkan keadaan objeknya, peta dibagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu:
a. Peta Dinamik
Peta yang menggambarkan keadaan yang berubah-ubah. Misalnya, peta transmigrasi, peta aliran sungai, peta perluasan tambang, dan sebagainya.
b. Peta Stasioner
Peta yang menggambarkan keadaan yang stabil. Misalnya, peta tanah, peta wilayah, peta geologi, dan sebagainya.
5. Jenis Peta berdasarkan Statistik
Jenis peta juga bisa dibedakan berdasarkan statistiknya, nih. Di antaranya:
Peta persebaran penduduk. (Sumber: kompasiana.com)
a. Peta Statistik Distribusi Kualitatif
Peta yang menggambarkan kevariasian jenis data, tanpa memperhitungkan jumlahnya. Contohnya: peta tanah, peta budaya, peta agama, dan sebagainya.
b. Peta Statistik Distribusi Kuantitatif
Peta yang menggambarkan jumlah data, yang biasanya berdasarkan perhitungan persentase. Contohnya: peta penduduk, peta curah hujan, peta pendidikan, dan sebagainya.
6. Jenis Peta berdasarkan Fungsi
Jenis peta berdasarkan fungsinya, dapat dibedakan menjadi:
Peta geografi dan topografi;
Peta geologik, hidrologi, dan hidrografi;
Peta lalu lintas dan komunikasi;
Peta yang berhubungan dengan kebudayaan dan sejarah, misalnya: peta bahasa, peta ras;
Peta lokasi dan persebaran hewan dan tumbuhan;
Peta cuaca dan iklim;
Peta ekonomi dan statistik.
Rumus Skala Peta
Wah, ternyata peta itu ada banyak jenisnya, ya. Bukan hanya sekedar kertas seperti Atlas, atau Google Maps saja. Hehehe…
Terus, kamu penasaran nggak sih, gimana caranya orang membuat peta. Kan di awal sudah dijelaskan tuh, kalau peta itu representasi suatu wilayah versi kecilnya. Lalu, gimana ya peta bisa seakurat itu?
Nah, jawabannya ada pada konsep skala peta. Skala adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara jarak peta dengan jarak sebenarnya. Dengan menggunakan skala, kita dapat menggambarkan benda, tempat, wilayah, atau sesuatu yang besar ke bentuk yang lebih kecil, sehingga mudah diukur.
Pada skala peta, kita hanya perlu menggunakan skala numerik yang menunjukkan perbandingan 1 cm dengan berapa sentimeter lainnya.
Rumus Skala Peta
Skala Peta = Jarak Peta (JP) : Jarak Sebenarnya (JS)
Contoh:
Skala peta 1 : 500.000
Skala dari peta tersebut adalah 1 cm dibanding 500.000 cm. Artinya, setiap 1 cm jarak pada peta, merepresentasikan 500.000 cm jarak di permukaan bumi sebenarnya.
Jadi, kalau semisal di peta tersebut ada suatu jalanan dengan jarak 5 cm, berarti jarak sebenarnya adalah 5 x 500.000 = 2.500.000 cm, atau 25 km. Sampai sini, apakah kamu paham?
Oke, supaya kamu lebih paham, kita kerjakan beberapa contoh soal seputar skala peta berikut ini, yuk!
Contoh Soal 1
Jarak dari kota A ke kota B di peta adalah 5 cm. Skala peta tersebut adalah 1 : 200.000. Berapakah jarak kota A ke kota B sebenarnya?
Penyelesaian:
Skala Peta = Jarak Peta : Jarak Sebenarnya
1 : 200.000 = 5 : Jarak Sebenarnya
Jarak Sebenarnya = 5 x 200.000 = 1.000.000 cm = 10 km.
Jadi, jarak sebenarnya dari kota A ke kota B adalah sejauh 10 km.
Contoh Soal 2
Jarak kota C ke kota D adalah 25 km. Sebuah peta memiliki skala 1 : 500.000. Berapakah jarak dari kota C ke kota D di peta?
Penyelesaian:
1 km = 100.000 cm –> 25 km = 2.500.000 cm
Skala Peta = Jarak Peta : Jarak Sebenarnya
1 : 500.000 = Jarak Peta : 2.500.000
Jarak Peta = 2.500.000 : 500.000 = 5 cm.
Jadi, jarak dari kota C ke kota D pada peta adalah 5 cm.
Atlas adalah kumpulan peta yang disatukan dalam bentuk buku, tetapi juga ditemukan dalam bentuk multimedia. Atlas dapat memuat informasi geografi, batas negara, statisik geopolitik, sosial, agama, dan ekonomi.
Atlas yang pertama tidak diberi nama demikian pada saat pertama kali dipublikasikan. Buku pertama yang dapat disebut atlas dibuat berdasarkan hasil perhitungan dari Klaudius Ptolemaeus, seorang ilmuwan yang mempelajari geografi yang bekerja di Aleksandria pada 150 SM. Edisi pertama dipublikasikan di Bologna pada 1477 dan memiliki 27 buah peta. Ilmuwan tidak dapat memastikan apakah gambar peta-peta tersebut berasal dari peta asli yang dibuat Ptolomaeus atau dibuat oleh ilmuwan abad pertengahan berdasarkan tulisan Ptolomaues. Sejak 1544, banyak peta yang dibuat, khususnya sehubungan dengan hubungan dagang antara Roma dan Venesia. Setiap pembuat peta bekerja terpisah, menghasilkan peta berdasarkan kebutuhannya masing-masing.
Abraham Ortelius dikenal karena membuat atlas modern pertama pada 20 Mei 1570. Karyanya yang berjudul Theatrum Orbis Terrarum, memuat 53 peta yang mencakup negara-negara di dunia pada saat itu. Karyanya tersebut merupakan buku pertama dari jenisnya yang memuat dalam ukuran yang seragam. Pada saat itu, karya tersebut terbilang sukses. Namun, penggunaan istilah "atlas" untuk koleksi peta belum digunakan sampai 1595 di mana Gerardus Mercator menerbitkan karyanya yang berjudul "Atlas, Sive Cosmographicae Meditationes De Fabrica Mundi ..." (Atlas, atau Deskripsi dari Dunia) (Duisburg, 1585-1595).